Penghulu Segala Hari: Pentingnya Berbakti Kepada Orang Tua dalam Islam
Hari Jumat, yang dikenal sebagai Sayyidul Ayyam atau penghulu segala hari bagi umat Islam, memiliki kedudukan istimewa. Setiap muslim yang telah balig diwajibkan untuk menunaikan salat Jumat. Dalam pelaksanaannya, salah satu rukun yang tidak boleh ditinggalkan adalah khutbah Jumat. Melalui khutbah, khatib menyampaikan pesan tentang ketaatan, keimanan, serta pengingat agar umat semakin mendekatkan diri kepada Allah.
Tema khutbah Jumat pun beragam sesuai dengan kebutuhan umat. Pada kesempatan kali ini, khutbah mengangkat topik tentang dosa durhaka kepada orang tua. Khutbah I dan Khutbah II memberikan penjelasan mendalam tentang pentingnya berbakti kepada orang tua dan dampak dari perbuatan durhaka terhadap mereka.
Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua
Sesungguhnya jasa kedua orang tua terhadap anaknya sangat besar. Fakta ini tidak bisa diingkari oleh siapapun juga. Seorang ibu telah mengandung anaknya dalam keadaan lemah dan susah. Dia menyabung nyawa untuk melahirkan anaknya. Kemudian memelihara dan menyusui dengan penuh kelelahan dan perjuangan selama dua tahun.
Allah 'Azza wa Jalla memberitakan sebagian jasa tersebut dalam firman-Nya:
"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan." (QS. Al-Ahqaf: 15).
Demikian juga sang bapak menantang panas dan hujan guna mencukupi kebutuhan keluarganya. Sehingga tidak heran jika keduanya memiliki hak yang harus dipenuhi oleh sang anak, bahkan hak orang tua itu mengiringi hak Allah 'Azza wa Jalla. Dia berfirman:
"Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (QS. An-Nisa`: 36).
Hadits Tentang Kewajiban Berbakti Kepada Orang Tua
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang utama. Dalam hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu."
Bahkan kewajiban berbakti kepada orang tua itu melebihi kewajiban jihad fi sabilillah. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
"Pulanglah kepada kedua orang tuamu, lalu temanilah keduanya dengan sebaik-baiknya."
Dosa Durhaka Kepada Orang Tua
Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Agama Islam melarang uququl walidain (durhaka kepada kedua orang tua), bahkan memasukkannya ke dalam dosa-dosa besar yang mengiringi syirik. Banyak hadits-hadits yang berkaitan dengan hal ini, antara lain:
"Menyekutukan sesuatu dengan Allah, kemudian durhaka kepada dua orang tua, kemudian sumpah yang menjerumuskan."
Walaupun kedudukan orang tua begitu tinggi, banyak orang melupakan tuntunan agama yang suci ini. Mereka tidak peduli lagi dengan hak mereka dan tidak menunaikannya sebagaimana mestinya.
Bentuk-Bentuk Durhaka Kepada Orang Tua
Adapun bentuk-bentuk durhaka kepada orang tua atau uququl walidain adalah: - Tidak menaatinya - Memutuskan hubungan dengan keduanya - Tidak berbuat baik kepada keduanya
Fenomena durhaka kepada orang tua itu sangat banyak, antara lain: - Mengucapkan perkataan yang menunjukkan tidak suka, seperti "ah" atau semacamnya, dan demikian juga membentak dan bersuara keras kepada orang tua. - Mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua bersedih hati, apalagi sampai menangis. - Bermuka masam dan cemberut kepada orang tua. - Mencela orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung. - Memandang sinis kepada orang tua, yaitu memandangnya dengan sikap merendahkan, menghinakan, atau kebencian. - Malu menyebut mereka sebagai orang tuanya. - Memerintah orang tua, seperti memerintah ibu untuk menyapu rumah, mencuci baju, menyiapkan makanan. - Memberatkan orang tua dengan banyak permintaan. - Lebih mementingkan istri daripada orang tua. - Meninggalkan orang tua ketika masa tua atau saat membutuhkan anaknya.
Inilah diantara bentuk-bentuk kedurhakaan yang harus ditinggalkan. Demikian juga bentuk-bentuk lainnya yang merupakan kedurhakaan, maka harus dijauhi. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam kebaikan.
Khutbah II
Khutbah II juga menegaskan pentingnya keimanan dan ketaatan kepada Allah. Dengan memperkuat keyakinan akan kebenaran ajaran Islam, para jamaah diingatkan untuk tetap menjaga nilai-nilai kebenaran dan menjauhi hal-hal yang dapat merusak keharmonisan dalam masyarakat.