
Kecelakaan Laut di Labuan Bajo dan Kepulauan Yapen Papua
Dalam beberapa hari terakhir, dua kecelakaan laut terjadi di wilayah Labuan Bajo dan Kepulauan Yapen, Papua. Dari kedua peristiwa tersebut, sebanyak 19 korban hingga saat ini masih dalam status hilang dan belum diketahui nasibnya.
Kapal Wisata KM Putri Sakinah Tenggelam
Pertama adalah tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang di atas kapal (person on board/POB), Jumat (26/12/2025). Kapal itu bertolak dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar untuk melanjutkan perjalanan wisata sekitar pukul 20.00 Wita. Namun kapal dilaporkan mengalami mati mesin di tengah perjalanan sebelum akhirnya tenggelam di perairan Pulau Padar.
Tujuh orang berhasil selamat dalam peristiwa tersebut. Para korban selamat terdiri atas dua WNA asal Spanyol, empat kru kapal, serta satu orang pemandu wisata. Data korban selamat:
- Lukman (Kapten, Laki-laki, Indonesia)
- Muhamad Rifai (ABK, Laki-laki, Indonesia)
- Muhamad Alif Latifa (ABK, Laki-laki, Indonesia)
- Rahimullah (ABK, Laki-laki, Indonesia)
- Valdus (Guide, Laki-laki, Indonesia)
- Ortuno Andrea (penumpang, perempuan, Spain)
- Mar Martinez Ortuno (Penumpang, Perempuan, Spain)
Sementara 4 korban hilang adalah: * Martin Carreras Fernando (Laki-laki, Spain) * Martin Garcia Mateo (Laki–laki, Spain) * Martines Ortuno Maria Lia (Perempuan, Spain) * Martines Ortuno Enriquejavier (Laki–laki, Spain)
Pada Senin (29/12/2025) pukul 06.05 Wita salah satu korban hilang berhasil ditemukan di perairan utara Pulau Serai, Labuan Bajo. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Dia adalah salah satu anak dari Martin Carreras Fernando.
Hingga Sabtu (3/1/2026) tiga korban lainnya belum ditemukan termasuk Martin Carreras Fernando, Pelatih tim B sepak bola wanita Valencia CF. Dua korban hilang lainnya adalah anak-anak Martin. Sementara istri Martin dan seorang anak lainnya selamat.
Speedboat Tenggelam di Kepulauan Yapen
Dua hari sebelumnya, speedboat bermuatan 21 penumpang terbalik di perairan Tanjung Andei, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Rabu (24/12/2025) akibat badai dan gelombang tinggi. Saat itu speedboat bermesin 40 PK tersebut dalam perjalanan dari Kota Serui menuju Kampung Waindu pada malam menjelang Natal.
Kepala Pos SAR Basarnas Serui, Thommy M Lewerissa, mengatakan kapal mulai tenggelam sekitar pukul 20.00 WIT setelah diterjang angin kencang. "Kapal diterjang angin kencang dan gelombang tinggi hingga akhirnya terbalik dan tenggelam di perairan Waindu," ujar Thommy melalui sambungan telepon, Sabtu (27/12/2025).
Tim SAR gabungan baru berhasil menemukan tiga korban dalam kondisi selamat setelah mereka terapung selama berjam-jam di lautan. Usman Asis Aninam, tenaga medis yang juga penumpang speedboad ditemukan pertama kali oleh warga yang sedang memancing di Selat Sasorai pada Kamis pagi. Dua korban lain yakni Santi Rontini dan Hengki Injoroweri ditemukan di perairan arah Biak dengan luka bakar akibat paparan bahan bakar minyak.
"Kedua korban selamat namun mengalami luka bakar karena kontak langsung dengan jeriken BBM yang digunakan sebagai pelampung," jelas Thommy. Basarnas Biak mengerahkan satu kapal SAR dan dua perahu karet untuk memperkuat operasi pencarian korban yang masih hilang.
Operasi SAR ini melibatkan personel TNI-Polri serta masyarakat lokal dari Kampung Waindu dan Kampung Kurudu. "Petugas menghadapi tantangan berat karena pergerakan korban terbawa arus hingga sejauh 6 mil laut dari lokasi awal kecelakaan," ungkap Thommy. Prioritas pencarian diarahkan pada area baru mengingat banyak penumpang hilang dilaporkan merupakan anak-anak.
Proses Pencarian Dihentikan, 16 Korban Belum Ditemukan
Jumat (2/1/2026), proses pencarian korban kapal terbalik di perairan Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua Tengah dihentikan. Proses pencarian sudah berlangsung selama 7 hari alias sepekan, namun 16 korban yang hilang belum juga ditemukan.
Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Biak sejauh ini baru menemukan 2 korban dari total 21 penumpang di kapal tersebut. Kedua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Pihak Basarnas membuka kemungkinan untuk mengaktifkan kembali operasi pencarian jika masyarakat menemukan petunjuk baru.
Kundori mengimbau para nelayan dan warga pesisir untuk selalu memprioritaskan alat keselamatan serta memantau prakiraan cuaca saat melaut. Pemerintah daerah diharapkan terus memberikan pendampingan psikologis dan bantuan kepada keluarga korban pasca penghentian operasi ini.
Penutupan operasi SAR ditandai dengan kembalinya seluruh personel gabungan dari TNI-Polri serta relawan masyarakat ke satuan masing-masing. Sebelumnya speedboat berpenumpang 21 orang yang sedang berlayar dari Serui menuju Kampung Waindu pada Rabu (24/12/2025) dihantam cuaca ekstrem. Akibatnya speedboat tersebut terbalik. Sebanyak 3 orang selamat, 2 korban meninggal dan 16 lainnya belum ditemukan.