Kehadiran Tuhan dan Wajah Manusia

Erlita Irmania
0
Kehadiran Tuhan dan Wajah Manusia

Perayaan Epifani dan Makna Penampakan Tuhan

Pada hari ini, Gereja Katolik merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau yang dalam bahasa Yunani disebut “Epiphaneia”. Biasanya perayaan Epifani jatuh pada tanggal 6 Januari. Epifani berarti manifestasi, penampakan, atau theophany. Gereja Kudus melembagakan pesta ini untuk memperingati tiga manifestasi Yesus: pertama, sebagai Tuhan, Ia mau membiarkan diri-Nya disembah oleh para Sarjana dari Timur (para Majus). Kedua, sebagai seorang manusia, Ia menerima baptisan dari Yohanes; ketiga, sebagai seorang pembuat mukjizat, Ia mengubah air menjadi anggur pada Pesta Pernikahan di Kana.

Liturgi Gereja pada hari ini mengingatkan dengan cara yang sangat istimewa pada “manifestasi pertama”, yakni Yesus tampil sebagai Tuhan dan tindakan penyembahan (adorasi) dari para Majus. Nabi Yesaya pun telah berkata: “Bangkitlah, menjadi teranglah sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes 60:1). Dalam terang-Nya, bangsa-bangga dan raja-raja akan berduyun-duyun datang kepada terang-Nya dan raja-raja menyongsong cahaya yang terbit dari-Nya.

Gambaran Manusia dalam Injil

Injil pada Hari Raya Penampakan Tuhan menampilkan dua potret manusia yang berbeda satu dengan yang lain. Gambaran manusia yang pertama ialah orang-orang yang berhati tulus mencari Allah seperti para Majus dari Timur. Para Majus ini sering disebut sebagai Raja dari Timur, Ahli astrologi dari Timur. Mereka adalah orang besar, Raja ahli yang rela meninggalkan negeri asalnya hanya untuk mencari Tuhan.

Gambaran wajah manusia yang kedua ialah orang yang berhati jahat yang kurang beriman atau tidak percaya kepada Allah dan tak menyambut atau menerima karya-Nya. Tipe manusia seperti ini nyata dalam diri Raja Herodes, yang berpura-pura baik ingin menyembah Sang Bayi Yesus yang baru lahir, tetapi sebetulnya dari dalam lubuk hatinya muncul niat buruk terhadap-Nya.

Para Majus dan Raja Herodes

Para Majus bukanlah golongan biasa dan sederhana, karena mereka adalah orang besar, Raja ahli dari Timur. Mereka juga sering dijuluki sebagai orang pintar dan pandai, kaum profesional. Namun demikian, sejatinya mereka adalah “orang yang tulus hati dan jujur”. Mereka mau berjalan jauh hanya untuk mencari Tuhan. “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2).

Warta kelahiran Tuhan Yesus disampaikan bukan hanya kepada para gembala, melainkan juga kepada para Majus dari Timur. Bintang yang muncul waktu Yesus dilahirkan, hanya mereka tidak tahu di mana persisnya Raja baru itu dilahirkan. Itulah sebabnya, mereka pergi ke Yerusalem untuk menanyakan peristiwa itu. Mereka memang datang hanya untuk menyembah-Nya, namun pertanyaannya apakah mereka sendiri rela dan mau menjadi bawahan-Nya?

Raja Herodes sangat terkejut mendengar berita itu, dan menurut para ahli, seluruh “Yerusalem” artinya “segenap kekuasaan pusat menjadi gempar”. Bagaimana mungkin ada Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan di tengah-tengah wilayah pemerintahan atau kekuasaannya? Tentu saja Herodes sang penguasa saat itu merasa sangat heran, barangkali ia pun diliputi perasaan takut karena ternyata ada seorang Raja baru yang telah lahir di Betlehem.

Hati yang Tulus dan Jujur

Yang Kurang Berpengalaman dalam “Memimpin” (Berkuasa), Patut Waspada. Hati Herodes tidak lagi sabar untuk segera mengetahui identitas Sang Raja baru itu. Ia sangat penasaran dan barangkali juga diliputi rasa takut yang luar biasa mendengar secara langsung berita yang disampaikan para Majus kepadanya. Ia benar-benar dibuat pusing dan heran, seakan-akan tak percaya akan berita yang menggemparkan dirinya dan juga seisi istana serta “seluruh Yerusalem”.

Atas dasar inilah maka secara diam-diam Herodes memanggil para sarjana dari Timur dan menyuruh mereka supaya mencari Anak itu dengan saksama. Jikalau mereka telah menjumpai-Nya, dia sendiri berpesan agar ia pun diberitahu supaya ia datang menyembah-Nya. Padahal sebagaimana yang dinyatakan dalam Injil Matius, Herodes sudah berniat jahat terhadap Bayi itu; dia ingin membunuh-Nya.

Epifani: Natalnya para Bangsa

Pada hari Raya Epifani ini, sekali lagi kita pun merayakan Natal, tetapi Natal yang dirayakan hari ini adalah Natalnya para bangsa. Para bangsa pun turut bersukacita, karena mereka pun diberi anugerah untuk datang menyembah Yesus di Betlehem. A. Berthold Pareira menerangkan: “sebelum suku-suku bangsa kita menjadi Kristen, Allah telah berbicara kepada kita melalui bimbingan bintang, tetapi di mana Yesus berada kita belum tahu. Kita adalah orang Majus. Sekarang kita pun diberitahu bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, Dia menjadi Raja kita, dan Dialah yang memenuhi segala kerinduan, dambaan hati kita.”

Manusia, Insan Peziarah yang Terus Mencari Tuhan?

Sebagai manusia, selama kita masih berziarah di bumi, kita pun adalah orang-orang yang sedang berada dalam suatu upaya untuk mencari sesuatu dalam hidup kita (makan, pekerjaan, jodoh, kepastian hidup, dll). Samaseperti para Majus, mereka pun berjalan jauh mencari Tuhan dan mau menyembah-Nya. Kita pun, dalam hidup ini, perlu terus belajar mencari Tuhan, tidak hanya sekali, dua kali, tetapi setiap detik, setiap waktu.

Catatan Akhir. Sikap tulus dan jujur seperti para Sarjana dari Timur itu kiranya tertanam juga di dalam hati kita. Siapapun boleh berkuasa, memerintah, memimpin dan pintar, namun jika hatinya selalu angkuh, sombong dan tidak pernah rendah hati, jujur dan tulus, maka itu suatu kesia-siaan belaka. Justru itu menampakkan spirit keangkuhan seperti Herodes. Hati yang jujur dan tulus itulah hati yang sangat dirindukan Tuhan. Hati yang demikian tentunya akan menyenangkan-Nya, sehingga Dia juga mau menampakkan diri-Nya kepada siapapun. Hati yang kotor dan jahat seperti Herodes sejatinya akan tertutup bagi Tuhan.



Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default