
Kritik Terhadap Penanganan Bencana di Sumatra
Virdian Aurellio, seorang kreator konten yang terlibat dalam gerakan #LawanButaPolitik, mengungkapkan kritik tajam terhadap penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatra. Menurutnya, pemerintah dinilai lambat, tidak transparan, dan gagal menunjukkan kepemimpinan moral dalam menghadapi situasi ini. Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto belum menunjukkan sikap tegas atau penyesalan atas kebijakan lingkungan sebelumnya.
Kritik Terhadap Pemerintah
Virdian menuding pemerintah gagal mengambil langkah strategis, seperti audit deforestasi, alokasi anggaran besar, hingga penetapan status bencana nasional. Ia menilai respons negara yang lambat dan tidak transparan wajar terjadi akibat sikap pemimpinnya. Dalam acara dialog Bola Liar yang tayang di Kompas TV, Jumat (5/12/2025), Virdian menyatakan generasinya berhak marah kepada generasi tua karena merasa akan menanggung seluruh dampak kerusakan lingkungan yang diwariskan para elite atau generasi tua hari ini.
"Kami hidup masih lama kebagian duitnya enggak, ikut tenggelam, iya," tegasnya. Ia juga menyoroti langkah pemerintah membuka donasi publik untuk korban bencana, dengan menyebut negara FOMO (fear of missing out) dan mengkritik penggunaan uang pajak rakyat sebagai bentuk donasi.
Tudingan ke Presiden Prabowo
Virdian menilai Presiden Prabowo sama sekali tidak menunjukkan sikap tegas maupun penyesalan atas kebijakan lingkungan sebelumnya. Di mana Prabowo pernah tidak peduli dengan peringatan para aktivis lingkungan soal deforestasi dan menganggap sama sekali tidak berbahaya mengganti hutan dengan pohon sawit.
Ia menyebut Presiden tidak pernah menginstruksikan bahwa nantinya seluruh mobilitas anggaran akan difulkan untuk warga Sumatra. Selain itu, Presiden juga tidak pernah mengatakan bahwa akhirnya akan melakukan audit deforestasi, akan melakukan pembenahan tata ruang, dan akan melakukan pemulihan jangka panjang yang serius.
Tagar #WargaJagaWarga
Ketidakpercayaan publik, kata Virdian, membuat solidaritas masyarakat melampaui gerak pemerintah. Dalam tiga hari, masyarakat menitipkan Rp410 juta ke Virdian untuk disalurkan. Feri Irwandi bisa kumpulkan Rp10 miliar dalam sehari. Karenanya, Virdian meminta pemerintah segera menyatakan status bencana nasional untuk Sumatra sebagai bentuk keseriusan.
"Kalau benar-benar istana ingin mendengar apa yang menjadi harapan publik, statuskan bencana nasional untuk bencana Sumatera. Karena dengan begitu kita akan tahu standing point dari negara adalah berpihak kepada korban, berpihak kepada generasi muda yang kita ingin hidup tidak dengan tenggelam," katanya.
Tanggapan dari Pihak KSP
Sementara itu, Plt Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Telisa Aulia Falianty, mengatakan Presiden serius dalam melihat bencana Sumatra. Namun buktinya yang dipaparkan Telisa, bahwa mereka hanya selalu mendapat panggilan agar melakukan updating atau laporan terbaru dari bencana Sumatra.
"Buktinya kami, istilahnya ee hampir setiap saat itu selalu mendapatkan call, untuk segera melakukan updating, updating, dan progress gitu," katanya. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana sedang dalam proses dan membutuhkan waktu serta koordinasi dengan berbagai K/L.
Kesimpulan
Virdian menilai narasi resmi pemerintah tidak menggambarkan kondisi paling parah di lapangan. Di Aceh Tamiang ada warga yang sudah tujuh hari tidak makan dan kota “seperti zombie.” Namun gambar yang ditampilkan pemerintah hanya "tempat yang bersih dan adegan salam-salaman." Ia meminta pemerintah segera menyatakan status bencana nasional untuk Sumatra sebagai bentuk keseriusan.
"Yakni untuk tadi, mobilitas anggaran, pembenahan tata ruang, pemulihan jangka panjang serius, audit deforestasi, mengadili seluruh pengusaha nakal, aparat nakal, politisi nakal, pejabat nakal, kepala dinas nakal yang terlibat dalam deforestasi ini," katanya.
Namun ujar Virdian sampai kini sejak bencana terjadi tidak ada tanda-tanda menerapkan bencana nasional di Sumatra. Ia menilai status bencana nasional menentukan apakah negara berpihak pada korban atau tidak, berpihak pada generasi muda atau tidak.