Ruang Tenang di Klaster Kuliner Cirata

Erlita Irmania
0

Pengalaman Makan di Klaster Wisata Kuliner Cirata

Tidak ada suara yang lebih meyakinkan daripada keputusan yang telah dipikirkan dari lama. Siang itu, saat udara masih menyisakan dingin dari pagi, seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun bernama Fina akhirnya memenuhi sebuah keinginan yang telah lama ia tunda selama berbulan-bulan untuk pergi ke Klaster Wisatu Kuliner Cirata, tempat yang selama ini hanya ia lihat melalui video-video pendek yang terus muncul di media sosial. Ada pantulan cahaya di permukaan air serta terdapat meja kayu yang tak hanya berdiam sendiri, ada juga aroma ikan bakar yang katanya bisa tercium bahkan sebelum memesannya. Semua itu seperti sebuah undangan yang mengajak pengunjung untuk datang, bukan hanya demi makan, melainkan demi merasakan apa yang disebut banyak orang sebagai pengalaman makan kenyang di alam.

Fina datang bersama suaminya ke Klaster Wisata Kuliner Cirata, meski sejak awal dalam perjalanannya, ia menyadari banyaknya keraguan dan pertanyaan mengenai perjalanan yang ia harapkan serta usahanya untuk memastikan apakah apa yang yang ia lihat di layar ponselnya benar-benar ada di dunia nyata. Perjalanan ke Cirata selalu membawa perasaan yang campur aduk. Jalanan yang sedikit menurun dan panjang, dikelilingi perbukitan yang terlihat seperti dinding hijau yang bergerak, serta udara yang makin lembap saat mendekati area waduk. Ketika semakin dekat, bau air waduk yang bercampur tanah basah masuk melalui jendela mobil yang sengaja di buka sedikit. Rasanya seperti memasuki tempat yang mengerti cara untuk menenangkan perasaan seseorang, bahkan sebelum orang itu menyadari kebutuhan dirinya sendiri.

Di pintu masuk kawasan kuliner, suasana langsung berbeda. Lebih hidup. Lebih riuh. Lebih penuh warna. Pedagang-pedagang mulai merapatkan langkah begitu melihat kami datang. Mereka mulai memanggil menawarkan berbagai barang, seperti ikan segar yang masih meneteskan air, camilan khas, mainan anak, bahkan pengamen mulai mengikuti arah jalan kami. Langkah ini terhenti di tempat makan yang luas, dari banyaknya tempat kuliner yang ada, di sinilah ia berpijak. Di titik ini, indra pendengaran Fina membawa banyak suara secara sekaligus, mulai dari panggilan pedagang, gumaman pengamen, tawa pengunjung lain, dan alunan lagu yang dinyanyikan oleh beberapa pengunjung.

Fina sedikit merasa tidak nyaman, ketika baru saja duduk dirinya harus berhadapan dengan beberapa pedagang asongan juga berbagai pengamen dengan gitar sampai pengamen berkonstum, ada dorongan alami untuk langsung bergerak menjauh cepat. Tapi di dalam hati ada pertanyaan, seperti bagaimana cara menolak tanpa membuat mereka kehilangan penghasilan? Akhirnya, Fina membeli satu atau dua barang dari pedagang tersebut yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Bukan karena tertarik, tapi karena ia tahu jika menolak sering kali membuat kita merasa bersalah tanpa sebab. Sayangnya, pembelian itu justru membuat pedagang lain datang mendekat, seperti arus yang selalu berulang tanpa benar-benar selesai. Tapi Fina lebih memilih menerimanya sebagai bagian dari pengalaman, bukan penghalang, hanya bagian dari perjalanan hidup.

Ada rasa aneh ketika melihat sesuatu yang selama ini hanya disangka dalam rekaman dalam bentuk konten yang ternyata tergambar nyata di depan mata, utuh, rinci, tanpa filter kamera, dan tanpa musik pengiring. Mata Fina menyapu permukaan air yang bergerak perlahan, mengamati burung-burung kecil yang melintas sambil menari-nari, serta daun-daun yang bergoyang mengikuti ritme udara.

Fina dan suaminya memilih meja yang paling atas yang dekat dengan tepian. Angin datang tak beraturan, kadang kencang, kadang lembut, kadang hanya menyentuh ujung rambut. Namun setiap hembusan membawa satu pesan yang sama, santai, perlahan.

Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka sambil membawa selembaran kertas yang berisikan nama-nama makanan. Begitu diberikan daftar makanan tersebut oleh pemilik tempat kuliner ini, Fina memesan paket lengkap untuk dua orang, mulai dari dua ekor ikan nila bakar, sambal dan lalab, tahu, tempe, nasi liwet, serta dua kelapa muda yang segarnya langsung terasa bahkan sebelum menyentuh bibir. Harga paketnya sekitar seratus tiga puluh ribuan. Murah bukan karena nominalnya rendah, tetapi karena porsinya jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Ikan nila yang datang benar-benar besar. Bukan sekedar ukuran bayang-bayang yang ada dalam kertas daftar menu makanan, tapi ini benar-benar besar bukan pencitraan. Dagingnya tebal, dan kulit bakaranya menunjukkan gurat-gurat hitam yang mengisyaratkan bumbu yang dioles meresap sampai ke dalam permukaan.

Begitu makanannya datang, lidah ini mulai menyatu dalam satu sentuhan rasa. Aroma ikan bakar datang lebih dulu, seperti kepulan asap yang membawa cerita dari arang, wajan, dan bumbu-bumbu yang dipijarkan pelan. Sambal lalabnya memunculkan wangi yang khas, dan cabe yang menusuk hidup sudah menunggu untuk diaduk. Sementara nasi liwetnya terasa seperti pulen, dan lembut di mulut. Rasanya? Medok, gurih, tak pelit bumbu, tak menipu dengan tampilan dalam foto menu. Ada perpaduan rasa manis, asin, dan sedikit pahit dari bakaran yang justru membuat ikan itu memancarkan karakter yang tidak mudah dilupakan di lidah.

Di sebelah kami, satu keluarga besar sedang karaokean. Biasanya Fina tidak suka mendengarkan musik dengan ritme yang keras dari speaker, tetapi hari itu, alunan nada yang bersenandung membuatnya terhibur. Lagu-lagu yang dinyanyikan memantul ke permukaan air, membentuk gema yang lembut. Mungkin, karena mereka bernyanyi bersama-sama, bukan untuk pamer melainkan untuk menghadirkan kehangatan dan keceriaan yang melengkapi suasana siang hari itu, ada kehangatan yang memancar, suara tawa, teriakan kecil anak-anak, dan tepuk tangan meriah dari penonton yang tidak dibayar. Semua itu seperti pertanda bahwa tempat ini bukan hanya sebagai definisi tempat kuliner, melainkan tempat untuk merayakan kebersamaan dengan penuh cinta.

Tidak ada tempat yang sempurna, seklipun tempat itu indah. Ketika menunggu hidangan yang dipesan ternyata datang cukup lama. Mungkin karena ikan bakar memang membutuhkan proses yang panjang, mungkin juga karena pengunjung sedang ramai. Tapi bagi Fina, lamanya menunggu tidak menjadi masalah besar. Justru memberi waktu untuk melihat Waduk Cirata lebih lama, waktu berbicara pun tidak jadi terburu-buru, dan membiarkan suasana menyelinap masuk ke dalam hangatnya tubuh.

Menunggu sampai mana pun tidak menjadi masalah karena rasa kesal terbayar dengan rasa sedap yang diberikan, hanya satu saja yang membuat wisata kuliner ini terasa kurang. Pedagang dan pengamen yang terlalu aktif, mereka terlalu dekat dalam mengikuti jejak. Fina paham betul apa yang mereka lakukan adalah bagian dari perjuangan untuk mencari nafkah, tapi pendekatan yang mereka lakukan dengan para pengunjung memunculkan rasa ketidak nyamanan pada pelanggan, Fina dan mungkin pengunjung lain merasakan hal yang sama, yaitu tergaggu. Jika saja sistem yang berlaku lebih teratur, mungkin dengan diberikan fasilitas khusus untuk berjualan atau mungkin aturan lainnya seperti memberikan jam operasi kepada mereka hingga bisa saling bergantian ketika menawarkan dagangannya, dengan begitu semua pengunjung akan merasa lebih nyaman dan sedikit tenang.

Namun dari kekurangan tersebut Fina tetap merasa puas datang ke Klaster Wisata Kuliner Cirata. Ia juga merekomendasikan tempat ini kepada banyak orang dalam media sosialnya, terutama kepada teman dekatnya. Di tempat kuliner ini, siapapun yang ingin makan murah, enak, dan kaya akan suasana semua itu sudah terangkum menjadi satu. Di sini pemandangan yang ditawarkan bukan hanya sebagai visual pendukung, tetapi pemandangan menjadi bagian dari hidangan itu sendiri.

Ada satu hal lain lagi yang membuat tempat ini yang terasa begitu manusiawi, di wisata kuliner ini, biaya masuk dipastikan murah. Sepuluh ribu dalam hitungan satu mobil dan lima ribu untuk satu motor, biaya parkir juga murah, dibayar dengan tarif pada umumnya dan terkadang dibayar dengan atas nama keikhlasan. Fina tidak merasa keberatan sama sekali, ia menganggap hal itu dijadikan sebagai bentuk sedekah kecil untuk membantu warga sekitar yang hidup dari denyut wisata kuliner tersebut.

Mungkin saja, itu semua menjadi alasan terbesar mengapa Klaster Wisata Kuliner Cirata layak dikunjungi, karena tempat kuliner ini tidak berusaha menjadi lebih dari yang seharusnya, tetapi juga tidak untuk menjadi kurang. Tempat kuliner ini menjadi hidup dalam kesederhanaan yang mengikat memori semua orang yang berkunjung, seolah memberikan tarikan agar pengunjung kembali datang ke tempat kuliner ini. Ikan bakar, angin waduk yang lembut, suara pengunjung yang berbahagia, dan pemandangan yang memberikan menjadi ruang bagi siapapun untuk memanjakan matanya.

Hari itu bagi Fina bukanlah sekedar kuliner biasa, ia menepati janji kepada dirinya sendiri, ia juga berjanji untuk membuktikan beberapa keinginan memang harus diberi waktu untuk menjadi kenyataan. Cirata, dari segala riuh, hangat, dan kesederhanaannya, menjadi saksi bisu bahwa harapan yang sederhana sering kali menghasilkan kebahagiaan dalam kebersamaan yang paling nyata.

Sebelum Fina benar-benar meninggalkan mejanya, ia menyandarkan tubuhnya sejenak dan membiarkan matanya menyapu seluruh sudut tempat ini, kuliner Cirata ini menahan cahaya yang membuat Fina ingin diam lebih lama. Di kejauhan, beberapa perahu kecil bergerak pelan dan mengeluarkan suara mesin yang mendominasi. Orang-orang yang menumpangi perahu memancarkan riak yang tidak terlalu keras karena tertimbun vocal dari speaker pengunjung yang bernyanyi.

Fina mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasa setenang it. Bukan tenang karena hening dan sepi, melainkan tenang karena ada dorongan yang memberi perintah. Sebelum bangkit, Fina sempat mengamati kembali hidangan yang tinggal sisaan dalam piring. Tulang ikan yang menyiksakan sedikit daging, serpihan sambal yang menempel di piring, dan butir nasi yang tercecer dalam piring saji, ada rasa kepuasan yang sulit dijelaskan ketika melihat piring sudah hampir kosong seperti bukti kecil bahwa rasa benar-benar bekerja dengan baik.

Saat melangkah pergi, lantai kayu bergemerak pelan di bawah kaki. Setiap pijakan seperti penutup lembut dari pengalaman yang belum siap dilupakan. Rasanya seperti air dalam waduk ini memberikan ruang yang mampu menyatukan banyak hal, dari suasana, cita rasa, dan pengalaman dikemas dalam cara yang sebelumnya tidak pernah Fina temukan di tempat lain.

Fina merasa seperti diberikan pesan sederhana setelah memutuskan untuk pulang dari tempat kuliner ini. Bahwa kadang, perjalanan menuju tempat yang kita inginkan itu bukan hanya soal sampai, tetapi soal membiarkan diri ini merasakan segala detail kecil yang penuh makna yang terjadi sepanjang perjalanan siang itu.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default