Peringatan Tsunami di Aceh: Dua Tradisi yang Berbeda
Dalam 20 tahun terakhir, Aceh mengalami dua bencana besar. Satu musibah berasal dari laut yang bernama tsunami, sedangkan yang satu lagi bencana yang datang dari gunung/rimba raya pada akhir November 2005 lalu. Keduanya, membawa malapetaka besar yang mengguncangkan kehidupan warga Aceh di segala bidang.
Tragedi tsunami sudah diperingati 20 kali dan pada 26 Desember 2025 ini diperingati yang ke-21 kalinya. Sedangkan banjir dan longsor (bencana hidrometeorologi) yang terjadi Rabu, 26 November 2025 sedang dalam tahap rehap-rekon yang belum jelas kapan selesainya.
Reportase ini bukanlah hendak melaporkan kedua peristiwa musibah raksasa itu, melainkan menyangkut perihal tsunami yang secara resmi hanya diperingati pada 26 Desember setiap tahun. Padahal, sebagian warga Aceh juga memperingati tsunami pada tanggal 14 Zulkaidah atau 14 Burapet (bulan Aceh), berdasarkan kearifan lokal.
Melacak Ke Lapangan
Demi menelusuri keberadaan tradisi masyarakat Aceh yang mengenang peristiwa tsunami pada 14 Zulkaidah itulah pada hari 27 Mei 2024 atau 29 Beurapet 1446 TH atau 29 Zulkaidah 1446 H yang lalu, sekitar pukul 9 pagi bertolaklah kami ke arah Krueng Raya, Aceh Besar.
Anggota rombongan hanya empat orang. Bang Mahdi alias Cut Tek sebagai sopir, Bang IH (Ismail), Eli Wani selaku penulis novel Riwayat T.A. Sakti, dan saya sendiri.
Tujuan perjalanan sejauh lebih 100 kilometer itu adalah untuk mencari kepastian bahwa warga Aceh Besar sepanjang pantai mulai dari Krueng Raya hingga Lhoknga, selalu berdoa beramai-ramai pada setiap malam atau siang pada tanggal 14 Zulkaidah atau 14 Beurapet, yaitu ketika peristiwa tsunami terjadi menurut almanak Aceh.
Kepastian awal memang sudah saya peroleh, yaitu pada 27 Desember 2024, sehari setelah Hari Peringatan Tsunami Aceh yang ke-20. Di sore hari itu, saya pergi ke Gampong Meruek Lam Reudeup, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, setelah gagal menjumpai apa yang saya cari di Lambada Lhok, kecamatan yang sama.
Ketika tiba di Miruek Lam Reudeup, saya jumpai budayawan Kecamatan Baitussalam. Namanya Keuchik Amiruddin, mantan kepala desa yang sangat lancar saat berbicara. Di sinilah buat pertama kali saya ketahui bahwa warga kampung-kampung di Aceh Besar memang betul-betul melaksanakan “kenduri arwah” mengenang tsunami pada tanggal 14 Zulkaidah atau 14 Beurapet dalam sebutan orang Aceh, setiap tahun.
Pelacakan kami ini bermodalkan sebuah buku tipis berjudul “Hikayat Aceh – Rawon Gampong Aceh Besar (Nama-nama Gampong di Seluruh Aceh Besar) yang dikarang Medya Hus, lalu diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar tahun 2018.
Seperti tertulis pada kulit buku, semua nama kampung di Aceh Besar beserta ciri khasnya, semacam toponimi, dicantumkan dalam buku ini.
Saya hanya memilih kampung-kampung yang terletak sepanjang pantai saja, mulai Krueng Raya sampai ke Kecamatan Leupueng, Kabupaten Aceh Besar.
Dua Versi Peringatan
Sejauh yang kami jumpai di lapangan, ternyata masyarakat Aceh Besar mengenang peristiwa tsunami dalam dua versi. Yaitu, memperingati pada 26 Desember, yakni serentak dengan peringatan secara nasional dan satu lagi peringatan di lingkup perkauman warga pada 14 Zulkaidah setiap tahunnya.
Ada pula kampung-kampung yang ikut memperingati tsunami sekaligus pada kedua tanggal itu.
-
Responden yang kami jumpai di Kecamatan Leupueng adalah dua orang ibu penjual ikan kering di pinggir jalan raya Banda Aceh–Meulaboh. Keduanya berasal dari Gampong Pulot. Mereka menyebutkan bahwa di kampungnya peringatan tsunami dilakukan warga pada 26 Desember. Begitu pula di Gampong Layeuen yang berdekatan dan masih dalam Kecamatan Leupueng.
-
Di Gampong Lam Seunia, peringatan tsunami diselenggarakan kenduri pada malam 14 Zulkaidah. Berdoa bersama di meunasah gampong lama yang sudah tidak difungsikan lagi.
-
Masyarakat Kemukiman Lhoknga di Kecamatan Lhoknga, memperingati tsunami dengan mengadakan doa bersama pada malam ke-14 Zulkaidah, selepas magrib.
-
Warga Gampong Mon Ikeuen dan gampong sekitarnya, mengenang tsunami pada 26 Desember dengan doa bersama, tapi tidak ada kenduri.
-
Di Lam Rukam, menurut Pak Abdullah, Kepala Lorong Lam Rukam, Kecamatan Peukan Bada, di kampungnya tsunami diperingati pada 14 Zulkaidah di meunasah dengan membawa ‘bukulah’ tiga bungkus per KK.
-
Di Gampong Asoe Nanggroe, peringatan tsunami diadakan pada 26 Desember. Menurut Sekretaris Gampong Asoe Nanggroe, Syahrul Ramadhan, kenduri berlangsung di meunasah setempat dengan doa bersama.
-
Di Gampong Emperom tsunami diperingati pada 26 Desember.
Saran-Saran
Kami berkesimpulan bahwa seimbang antara warga yang memperingati tsunami pada tanggal 26 Desember dengan masyarakat yang mengenang tsunami pada 14 Zulkaidah atau buleuen (bulan) Beurapet dalam almanak Aceh.
Dalam hal ini kami sarankan agar peringatan tsunami di Aceh setiap tahun dilaksanakan dalam dua versi. Apakah mungkin?