
Kehidupan Harian di Desa Sidowarno, Klaten
Di Dusun Butuh, Desa Sidowarno, Kabupaten Klaten, kehidupan sehari-hari penuh dengan aktivitas yang menggambarkan kekayaan budaya lokal. Bunyi "tok, tok, tok" dari palu terdengar nyaring, mengiringi proses pembuatan wayang kulit. Meja panjang dipenuhi oleh alat-alat seperti ganden (palu kecil), pisau tatah, besi pipih, lem, lakban, dan tatakan. Di belakang meja tersebut, beberapa pria paruh baya sibuk mengayunkan palu mereka untuk menatah kulit wayang. Sementara itu, di sudut lain, orang-orang dengan tenang mewarnai kulit wayang setelah selesai ditatah.
Aktivitas ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga merupakan upaya pelestarian seni tradisional yang semakin langka. Proses pembuatan wayang kulit membutuhkan ketelitian dan kesabaran, serta kolaborasi antar generasi. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam perjalanan Desa Wisata Wayang Sidowarno:
Sejarah Perkembangan Desa Wisata Wayang
Pada tahun 2009, warga Desa Sidowarno membentuk Usaha Bersama (UB) yang diberi nama Bima. Awalnya, UB Bima memiliki 20 kelompok dengan total anggota sekitar 200 orang. Namun, jumlah anggota UB Bima mengalami pasang surut, hingga hanya tersisa 5 sampai 6 orang.
Tujuan utama dari UB Bima adalah tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan. Mereka berkomitmen untuk membangun empat pilar: pendidikan, kesehatan, wirausaha, dan lingkungan. Setelah melalui berbagai tantangan, jumlah anggota UB Bima kembali meningkat menjadi 12 orang, yang terdiri dari para pengrajin wayang kulit saling bergabung dan bekerja sama.
Peran Astra dalam Pembangunan Desa Wisata
Jauh sebelum Desa Wisata Wayang Sidowarno berkembang, Astra memberikan kontribusi besar melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Pada Februari 2017, CSR Astra menawarkan bantuan, meskipun awalnya tidak langsung diterima. Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan potensi wayang yang diakui oleh UNESCO, UB Bima memutuskan untuk bekerjasama dengan Astra pada Agustus 2018.
Astra tidak hanya membantu dalam pengembangan desa wisata, tetapi juga memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak di Desa Sidowarno. Beasiswa lestari Astra diberikan kepada 35 anak, dengan kuota yang berbeda untuk SD, SMP, dan SMA. Selain itu, Astra juga membantu membangun fasilitas-fasilitas seperti bank sampah dan dua gapura.
Peran Para Pemudi dalam Pemasaran dan Komunikasi
Enam pemudi asli Desa Sidowarno, yaitu Fadilla Arsy, Dinda, Mita, Berliana, Olivia, dan Nia, secara sukarela menjadi tulang punggung dalam pemasaran dan komunikasi Desa Wisata Wayang. Mereka bertugas sebagai Marketing and Communication dan awalnya bergabung dalam Bima Junior di KBA Solo.
Pada tahun 2021, mereka mulai menjadi staff administrasi dan kemudian membentuk tim Marketing and Communication yang lebih komprehensif. Tugas mereka mencakup pengelolaan media sosial, promosi, dan pembuatan konten untuk platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.
Upaya Melestarikan Wayang Kulit
Masyarakat Desa Sidowarno terus berupaya melestarikan wayang kulit dan seni tari. Mereka mengenalkan wayang kepada anak-anak PAUD dan SD setiap tiga bulan sekali. Untuk kelas 1 dan 2 SD, anak-anak diajarkan mewarnai wayang. Mulai kelas 3 SD, mereka diajarkan seni tari dengan bantuan pelatih dari Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI).
Sampai saat ini, sudah ada empat tari yang dikreasikan, termasuk tari kuda-kuda, topi, Candek Ayu, pangpung, dan kupu-kupu. Program ini juga sukses menghasilkan tari ciri khas Desa Sidowarno, yaitu tari Indahing Sidowarno.
Prestasi dan Penghargaan
Desa Wisata Wayang Sidowarno berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat nasional. Pada November 2022, mereka ikut dalam kompetisi Jateng Gayeng dan berhasil masuk 10 besar. Kemudian, mereka juga lolos ke babak 75 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan mendapatkan undangan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno.
Souvenir yang diberikan kepada Sandiaga Uno adalah wayang Gatotkaca, yang masuk dalam kategori seni kriya dan budaya. Keberhasilan ini menjadikan Desa Wisata Wayang Sidowarno semakin dikenal baik secara nasional maupun internasional.
Pandangan Masyarakat dan UNESCO
Wuryanto, seorang pemeran wayang, mengaku telah memesan wayang dari Desa Sidowarno sejak tahun 2011. Ia mengapresiasi kualitas wayang yang dibuat di sini. Sementara itu, Direktur UNESCO Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menyampaikan apresiasinya terhadap hubungan harmonis antar warga dan pengembangan wisata wayang kulit.
Dengan kerja keras dan kolaborasi antar generasi, Desa Wisata Wayang Sidowarno terus berkembang dan menjadi contoh dalam pelestarian budaya nusantara.